It is easy for a father to have children than for children to have a real father. ~Pope John XXIII
Cerita kali ini merupakan lanjutan dari cerita yang lalu. Pada cerita yang lalu, pengusaha itu memaksa supaya kedua orang tersebut mau menginap di rumahnya. Akhirnya kedua orang tersebut bermalam di rumah Lot, nama pengusaha itu. Saat mereka hendak tidur, segerombolam massa yang beringas mendatangi rumah Lot dan memaksa agar Lot menyerahkan kedua orang asing tersebut. Sampai disini sepertinya Lot tidak menyadari bahwa yang kedua orang tersebut adalah utusan Allah yang datang dengan misi untuk menyelamatkan seisi keluarganya.
Singkat kata Lot keluar untuk menemui massa yang semakin beringas. Lot pun berusaha menenangkan dan bernegosiasi dengan mereka. Sebagai tokoh yang berpengaruh di kota itu, Lot berharap mereka mau mendengarkan dia. Tapi karena menemui jalan buntu akhirnya Lot menawarkan solusi yang tidak masuk akal. Lot menawarkan kedua putrinya yang masih perawan dan tidak berdosa sebagai gantinya. Dalam terjemahan lain kisah itu ditulis, “you can do what you want with them” atau “you can do whatever you want with them” bahkan ada juga yang menulis “do to them as you please”. Anda para ayah apa bisa membayangkannya. Anda punya dua orang gadis yang masih perawan yang sebentar lagi akan menikah dengan pria yang dicintai, kemudian ketika ada persoalan muncul, katakanlah Anda didatangi penagih hutang, maukah Anda menyerahkan kedua anak gadis Anda yang tidak berdosa dan tidak tahu menahu sebagi ganti hutang Anda ? Apakah Anda rela meyerahkan anak gadis Anda untuk diperkosa dan dijadikan bahan mainan para laki-laki itu ? Kenyataannya ada seorang ayah yang tega melakukan hal tersebut, itulah Lot. Demi kepentingan bisnisnya. Lot rela mengorbankan kedua anak gadisnya. Aaah gimana ya perasaan kedua anak gadisnya melihat ayahnya yang seharusnya melindungi mereka malah rela mengorbankan mereka berdua. Mungkin dengan deraian air mata dan dengan gemetar karena ketakutan mereka menangis dan berteriak, “PAPA TEGA….PAPA KOK SAMPE HATI…PAPA JANGAN.... PAPA TOLONG”. Buat Lot adalah lebih berharga kelangsungan bisnisnya dari apapun juga termasuk dua anak gadisnya. Sepertinya sebelum kejadian itu, sehari-harinya Lot melewatkan hari-hari bersama kedua anaknya. Dia sibuk dengan urusan-urusan bisnisnya. Dia tidak terlalu memperdulikan kedua anaknya yang telah tumbuh menjadi dewasa. Mungkin kedua anaknya tumbuh dengan begitu banyak kekecewaan terhadap ayah mereka. Lot sukses dalam bisnis tetapi gagal menjadi ayah. Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya punya cerita menarik dibawah ini.
Kisah ini terjadi disuatu pagi yang cerah, yaa.. mungkin tidak begitu cerah untuk seorang ayah yang kebetulan memeriksa kamar putri nya...
Dia mendapati kamar itu sudah rapi, dengan selembar amplop bertuliskan untuk ayah diatas kasurnya.. perlahan dia mulai membuka surat itu...
--
Ayah tercinta,
Aku menulis surat ini dengan perasaan sedih dan sangat menyesal. Saat ayah membaca surat ini, aku telah pergi meninggalkan rumah. Aku pergi bersama kekasihku, dia cowok yang baik, setelah bertemu dia.. ayah juga pasti akan setuju meski dengan tatto2 dan piercing yang melekat ditubuhnya, juga dengan motor bututnya serta rambut gondrongnya. Dia sudah cukup dewasa meskipun belum begitu tua (aku pikir jaman sekarang 42 tahun tidaklah terlalu tua). Dia sangat baik terhadapku, lebih lagi dia ayah dari anak di kandunganku saat ini. Dia memintaku untuk membiarkan anak ini lahir dan kita akan membesarkannya bersama.
Kami akan tinggal berpindah-pindah, dia punya bisnis perdagangan extacy yang sangat luas, dia juga telah meyakinkanku bahwa ********* itu tidak begitu buruk. Kami akan tinggal bersama sampai maut memisahkan kami. Para ahli pengobatan pasti akan menemukan obat untuk AIDS jadi dia bisa segera sembuh. Aku tahu dia juga punya cewek lain tapi aku percaya dia akan setia padaku dengan cara yang berbeda.
Ayah.. jangan khawatirkan keadaanku. Aku sudah 15 tahun sekarang, aku bisa menjaga diriku. Salam sayang untuk kalian semua. Oh iya, berikan bonekaku untuk adik, dia sangat menginginkannya.
----
Masih dengan perasaan terguncang dan tangan gemetaran, sang ayah membaca lembar kedua surat dari putri tercintanya itu...
PS: Ayah, .. tidak ada satupun dari yang aku tulis diatas itu benar, aku hanya ingin menunjukkan ada ribuan hal yg lebih mengerikan daripada nilai Rapotku yg buruk. Kalau ayah sudah menandatangani rapotku diatas meja, panggil aku ya...Aku tidak kemana2 saat ini aku ada di tetangga sebelah.
Jika masih ada hari ini, inilah waktu yang tepat untuk datang dan memeluk anak-anak kita sambil menatap wajah mereka dan mengatakan, “Papa sayang kamu, kamu berarti buat Papa”. God Loves You, adalah kebanggaan menjadi seorang ayah.








